Work Text:
arjuna sedikit khawatir pada yudistira. pasalnya, teman serumahnya yang lebih muda itu akhir-akhir ini sedang sibuk-sibuknya bekerja hingga arjuna dapat melihat dengan jelas sepasang kantung mata yang hitam dan tebal itu. pun dengan jam makan yudistira yang menjadi sangat berantakan hingga arjuna harus beberapa kali mengantarkan roti ke ruang kerja yudistira agar yang lebih muda dapat dengan mudah memakannya sembari mengerjakan proyek yang menyita hampir seluruh waktunya itu.
bunyi pintu yang terbuka mengalihkan atensi arjuna dari televisi yang menayangkan berita demi berita negara yang berada di ambang kehancuran ini. raut wajah serius arjuna berubah menjadi penuh kekhawatiran. arjuna lantas berdiri menghampiri yudistira yang berjalan terhuyung dengan wajah pucatnya. tangannya sigap menopang tubuh panas yudistira, teman serumahnya ini demam tinggi.
“yud, lu demam,” arjuna berujar pelan. yang lebih muda mengangguk lemah.
“bantuin aku ke kamar ya, jun. mau tidur bentar nanti kalo udah mendingan aku beli obat ke apotek.”
“mau ke klinik aja gak?”
“gapapa, jun. gak parah ini.”
“badan lu panas banget kocak!” arjuna mengomel pelan. sebelah tangannya bergerak untuk membuka pintu kamar yudistira. sepasang manik obsidian milik arjuna membola terkejut melihat kondisi kamar yang begitu berantakan. lantas yang lebih tua memutuskan untuk membawa yudistira untuk beristirahat di kamarnya saja.
tumben sekali arjuna temukan kondisi kamar yang lebih muda sebegini berantakannya sebab sesungguhnya yudistira adalah orang yang hidup dengan teratur. selama mereka tinggal bersama di rumah kontrakan yang dibayar berdua ini, yang lebih muda selalu merapikan barang-barangnya dengan benar dan selalu membersihkan kamarnya setiap akhir pekan. arjuna kemudian menarik kesimpulan bahwa kesibukan yudistira akhir-akhir inilah yang membuat rutinitas itu terganggu hingga kamar bak kapal pecah itulah yang tadi menyambut mereka berdua. dan kesibukan itu pula yang kini membuat yudistira tumbang dengan suhu tubuhnya yang tinggi dan gigi yang bergemeletuk menggigil kedinginan padahal suhu di luar sedang panas-panasnya.
arjuna baru hendak beranjak untuk mengambil obat penurun demam ketika tangan panas yudistira meraih pergelangan tangan arjuna, menahan yang lebih tua agar tidak pergi meninggalkan yudistira sendirian.
“gua mau ambil obat sebentar, yudis.”
“gak mau …”
arjuna menghela napas. bertahun-tahun tinggal bersama, arjuna paham betul bahwa yudistira ini sulit sekali minum obat apalagi saat sakitnya sedang parah begini.
“nanti demam lu gak sembuh-sembuh, kerjaan lu gak kelar-kelar.” arjuna menepuk pelan tangan yudistira yang menggenggam pergelangan tangannya. “minum obat, ya? kalo kamu masih sakit pas aku ultah nanti gak bisa ngerayain bareng.” yang lebih tua membujuk dengan melembutkan suaranya. diam-diam arjuna menahan senyum gelinya agar tidak terbit. dirinya merasa seperti tengah membujuk anak kecil. ah, arjuna jadi teringat masa-masa ketika dia harus mengurus aya—adiknya—sewaktu kecil dulu.
bujukan arjuna yang barusan sepertinya berhasil. yudistira perlahan melepaskan genggamannya. arjuna tersenyum, telapak tangannya menepuk pelan kepala yudistira. lantas dirinya beranjak untuk pergi ke dapur untuk mengambilkan segelas air putih dan obat penurun demam, dengan cepat mengecek kulkas untuk mengecek bahan-bahan untuk membuat sup ayam. arjuna pikir yudistira perlu makan makanan yang hangat dan mudah dicerna. setelah memastikan bahan yang diperlukannya untuk memasak tersedia dengan lengkap, arjuna berjalan kembali ke kamarnya dengan membawa obat. dapat arjuna temukan yudistira yang tengah meringkuk di atas kasurnya dengan mata terpejam. sepertinya yudistira kini tengah tertidur.
“yudis minum obatnya dulu ya, abis itu baru sambung tidurnya.”
yudistira membuka matanya, “temenin aku tidur ya nanti.”
“sendiri dulu ya, aku mau masak biar perutmu gak kosong.”
“mkay,”
yudistira menyahut sekenanya, meraih sebutir obat yang disodorkan oleh arjuna. yang lebih muda menarik napas beberapa kali sebelum menenggak obatnya. arjuna terkikik pelan melihat ritual minum obat yang dilakukan yudistira.
“makasih, juna.” yudistira menggumam pelan saat arjuna hendak beranjak pergi ke dapur. arjuna tersenyum menatap yudistira yang sudah kembali memejamkan matanya.
sup ayam dengan kuah yang masih mengepul hangat dan berbau harum itu berhasil ikut memancing rasa lapar yang membuat perut arjuna berbunyi nyaring. arjuna kemudian mengambil mangkuk tambahan, ikut menyajikan semangkuk sup ayam hangat untuk dirinya sendiri.
di atas nampan, tersaji dua mangkuk sup ayam dan dua gelas air putih. satu mangkuk yang dilengkapi nasi putih dan satu gelas air putih dingin yang berembun untuk arjuna, dan satu mangkuk lainnya yang hanya berisikan sup tanpa nasi dan satu gelas air putih suhu ruang untuk yudistira. arjuna lantas dengan hati-hati mengangkat nampan untuk dibawa ke kamar.
arjuna sebenarnya tidak terbiasa makan di dalam kamarnya. bahkan cemilan pun dia akan memakannya di dapur atau di ruang tengah sembari menonton televisi. jadi, ini adalah pertama kalinya dia akan makan di dalam kamar.
nampan diletakkan di atas laci kayu yang berada di samping ranjang arjuna. tangannya dengan pelan mengguncang tubuh yudistira yang masih lelap dalam dunia mimpinya.
“yudis, makan dulu.”
yudistira mengerang tak nyaman. kelopak mata yang menyembunyikan sepasang manik zamrud itu perlahan terbuka. yudistira mengerjapkan matanya beberapa kali berusaha memfokuskan pandangannya.
arjuna membantu yudistira untuk duduk bersandar pada kepala ranjang. setelahnya ia memberikan mangkuk sup pada yang lebih muda. yudistira melirik ke arah mangkuk milik arjuna.
“kok punyaku gak pake nasi?”
“biar perutmu mudah mencerna makanannya. nanti kalo mau makan pake nasi bisa kok buat malem masih ada supnya.”
yudistira mengangguk patuh. lantas mereka makan dalam keheningan yang nyaman. mereka jarang sekali bisa makan bersama seperti ini mengingat masing-masing dari mereka sering disibukkan oleh pekerjaan masing-masing.
arjuna baru kembali ke kamar setelah mencuci peralatan makan mereka. dia menelengkan kepalanya menatap yudistira yang masih duduk bersandar.
“gak mau lanjut tidur?” arjuna bertanya. yudistira menoleh merentangkan tangannya ke arah arjuna.
“peluk.”
“kayak anak kecil.”
“peluk, juna.”
“iya, iya. sabar.”
arjuna ikut duduk bersandar di ranjangnya yang terasa sempit menampung dua lelaki dewasa bertubuh tinggi semampai.
“makasih ya udah ngurusin aku yang tiba-tiba sakit.”
“aman aja, sih. kayak sama siapa aja. temen saling bantu mah wajar lah.”
“iya, ya, temen.” yudistira terkekeh pelan.
kemudian hening. lantas kamar arjuna kemudian diisi dengan gumaman senandung dari yudistira. arjuna tersenyum lega, sepertinya yudistira sudah mulai sehat. dari tangan yudistira yang melingkari tubuhnya, arjuna dapat rasakan suhu tubuh yang lebih muda itu berangsur normal. arjuna bersandar pada bahu yudistira, menghidu wangi pelembut pakaian yang mereka gunakan bersama.
“jun,”
“ung?”
“kita udah tinggal bareng berapa tahun?”
“lima? gak tau lupa.”
“kita udah temenan berapa tahun?”
“sepuluh kali ya? kenapa tiba-tiba nanya ginian sih, yud?”
yudistira tersenyum. sebelah tangannya yang semula berpelukan dengan arjuna beralih untuk membawa sebelah tangan yang lebih tua dalam genggaman tangannya yang masih terasa hangat sebab demamnya belum sepenuhnya pulih.
“izin ya, jun.” yudistira menggumam pelan lantas membawa tangan arjuna untuk dipertemukan dengan bibirnya, yudistira mengecup punggung tangan yang lebih tua. arjuna memerah malu.
“ngapain yudiiiisss?”
“jun, kita udah temenan sepuluh tahun lebih. kalo aku ajakin kamu buat naik level kamu mau gak?”
“jadi temen level dua?”
“jadi teman hidup.”
“nikah?”
“boleh. tapi gak sekarang. sekarang kita pacaran dulu. nikahnya nanti kalo duitku udah cukup buat bawa kita pergi dari sini.”
“boleh deh. nanti aku nyumbang lima ribu.”
yudistira tertawa diikuti oleh arjuna. mungkin ini adalah pernyataan cinta yang paling gak romantis sedunia. deklarasi cinta di atas kasur dalam keadaan demam dengan kalimat seolah racauan orang yang sedang mengigau saat mimpi demam. tapi arjuna tertawa, pun dengan yudistira. mereka berbahagia atas hubungan mereka yang kini memasuki level yang baru. teman level dua? teman hidup.
