Actions

Work Header

Rating:
Archive Warning:
Category:
Fandom:
Relationship:
Characters:
Additional Tags:
Language:
Bahasa Indonesia
Series:
Part 5 of NoteSunFluffWeek 2026
Collections:
NoteSun Fluff Week 2026
Stats:
Published:
2026-07-02
Words:
1,052
Chapters:
1/1
Comments:
2
Kudos:
37
Bookmarks:
2
Hits:
175

matchy-matchy!

Summary:

Arjuna jatuh hati kepada sosok lain Yudis yang jauh lebih imut dari Yudis versi orisinil yang amit-amit (lovingly).

[Hari ke-5 #NoteSunFluffWeek - Dinner Date, Matching Outfit, Plushie.]

Notes:

Teman dari art keren yang bisa dilihat di sini: pencet untuk lihat #NoteSun imut_maksimal.png

(See the end of the work for more notes.)

Work Text:

Bayangkan: dua lelaki dewasa makan bareng di warung pecel lele. Enam piring kosong tergeletak di atas meja yang dialasi taplak merah. Di depan Yudis, ada dua piring—piring bekas nasi dan piring bekas ayam goreng yang hanya tersisa tulang. Di depan Arjuna, ada satu piring bekas nasi dan tiga piring bekas lauk.

Iya, betul, Arjuna kalap.

Emang namanya nafsu itu bakal terus bertambah kao gak diatur. Padahal Arjuna cuman berniat makan dua potong ayam, tapi bau pecel lele goreng dari tetangga sebelah (pelanggan lain yang kebetulan duduk di pinggir Arjuna karena lagi rame) bikin Arjuna refleks mesen tambahan lele.

Apakah Arjuna menyesal? Tentu saja tidak. Arjuna ikhlas kekenyangan demi muterin ekonomi pecel lele langganannya yang super enak itu.

"Aku begah banget," kata Arjuna sambil megangin perutnya yang ketat itu. "Mau langsung balik aja gak?"

"Gimana gak begah kalo makannya porsi kuli gitu? Jangan-jangan kamu beneran hamil ya?" celetuk Yudis sambil ikutan megang perutnya Arjuna. "Aku ramal bayi kita udah tiga bulan."

Pucuk kepala Yudis dicium penuh cinta sama jitakan Arjuna yang dilaksanakan dengan amat sangat personal.

"Terserah kau ajalah," ucap Arjuna sambil berdiri dari kursi meja makan dan berjalan pergi duluan, "Yuk, pulang."

Arjuna jalan ke depan penjaga warung dan ngeluarin dompet dari saku belakangnya. "Berapa, mpok?"

Baru juga mau bayar, Yudis buru-buru ngalangin Arjuna. "Hari ini, aku yang bayar," ucapnya sambil merogoh selembar uang berwarna merah muda.

"Lah, kan kemarin udah kau yang bayar. Sekarang giliran aku harusnya." Arjuna pura-pura protes, padahal aslinya lumayan seneng ditraktir Yudis. "Tau gitu, tadi aku sekalian pesen buat dibawa pulang."

"Aku mau ngasih kamu sesuatu soalnya," jawab Yudis selesai bayar.

Arjuna miringin kepalanya, bingung. "Apa hubungannya?"

"Yaaaa, biar mood kamu bagus aja."

"Lah, aneh. Emang kapan mood aku jelek kalo lagi sama kamu?"

"Halah," cibir Yudis.

Arjuna ketawa gara-gara respon Yudis yang jelas dari lubuk hati terdalamnya. Yah, itung-itung pembalasan buat puluhan kali Arjuna darah tinggi sama kelakuan Yudis.

"Jun, mampir duduk di Indomaret dulu ya. Aku mau ngasihnya sekarang aja." Yudis tarik tangan Arjuna dan Arjuna ngebiarin dirinya diseret ke kursi minimarkey yang biasanya jadi tempat merenung dia. Lucunya, Yudis ninggalin Arjuna duduk sendirian sebelum kabur buat masuk ke dalem tokonya.

Yudis masuk gak lama, cuman sekitar lima menit, dan keluar bawa dua botol air mineral.

"Biar kita fokus dan khidmat sama acara debut ini," ucap Yudis.

Debut? Apaan yang debut? Yudis daritadi beneran gak jelas mau ngasih apa. Awalnya, Arjuna punya firasat buruk. Sekarang juga sama aja, tapi ditambah perasaan bingung dan pengen mencak-mencak yang dia tahan berhubung lagi di luar.

Yudis akhirnya duduk di sebrang Arjuna sambil ngeluarin suatu hal yang dibungkus sama tas kain yang kayaknya bonusan dari gofood.

"Kamu bawa makanan?" tanya Arjuna.

"Netnot," Yudis masukin tangannya ke dalem tas itu, terus narik keluar... boneka?

Loh. Imut maksimal bonekanya.

Boneka berukuran sepuluh sentimeter yang seringkali dibuat jadi fanmerch buat karakter anime atau game dan dipajang di tas-tas dengan jendela vinyl, tapi dengan tampilan seperti dirinya dan Yudis.

Boneka ala-ala Yudis itu lengkap dengan jepit dan baju robek-robek dengan senyuman lebar. Wargh. Imut banget. Tangan Arjuna refleks ambil boneka Yudis yang masih diplastikin itu dan dia pencet bagian badannya pelan-pelan. Empuk banget, sial.

"Bonekamu imut banget, Yud..." ucap Arjuna tanpa melihat ke arah Yudis. Dia gak mau alihin pandangannya dari boneka itu bahkan sedetik pun. 

Rasanya cuman ada Arjuna dan Yudis kecil di dunia ini sekarang. Arjuna sama sekali gak bermaksud lebay, tapi mana bisa dia pura-pura bersikap semuanya baik-baik aja ketika ada fenomena genting yang menyita seluruh perhatiannya?

Iya, boneka Yudis itu termasuk keajaiban dunia. Bukan nomor delapan, tapi nomor dua setelah Candi Borobudur. Namanya juga WNI yang masih cinta negara biarpun gak dicintai balik.

Arjuna beneran kecintaan sama buntelan kapas di tangannya itu.

Kedua bola matanya pindai baik-baik boneka Yudis dari ujung kepala sampe ujung kaki. Di dunia ini harusnya gak ada yang sempurna, tapi Yudis cimit ini boleh lah kalo jadi pengecualian buat Arjuna. 

"Jun,"—"Jangan ganggu, aku lagi deeptalk."

Arjuna bisa denger Yudis ketawa, tapi Yudis besar itu urusan nanti. Arjuna baru beres inspeksi penampilan Yudis cimit yang oke_banget itu. Sekarang, saatnya Arjuna quality check seberapa empuk boneka di tangannya.

Awalnya, Arjuna neken hati-hati. Takut rusak.

Lama kelamaan, malah Arjuna neken sepenuh hati. Isinya cukup keras dan gak gampang mleyot. Keren juga vendor pilihan si pria hijau itu. Arjuna teken bagian muka Yudis keras-keras saking gemesnya. Apa Arjuna bejek sekalian aja, ya?

Pikiran jahat Arjuna itu berhenti disitu gara-gara tangan Yudis yang rebut satu tangannya dan cium ujung kukunya.

"Kamu suka, Jun?"

"Banget. Kamu beli dimana?"

"Ada deh. Aku sampe ikut waiting list demi kamu. NIh, aku punya yang versi kamu." Yudis pamerin boneka Arjuna di tangannya. "Liat, punya kamu ekspresinya ngambek gini. Imut banget gak sih? Aku sengaja request biar tambah imut. Yang versi aku malah aku pikir b aja, tapi baguslah kalo kamu suka." 

Hm... Imut, sih, tapi imut selayaknya boneka aja. Yudis kecil imutnya melebihi batas wajar keimutan boneka di mata Arjuna. Apa ini efek kecintaan yang merambat dan bikin Arjuna gak bisa berpikir secara objektif? Apa benar adanya kalo Arjuna adalah tipe yang gak bisa berpikir jernih kalo udah urusan Yudis?

"Gak ah, lucuan punya kau. Pengen aku hap."

"Sama, Jun. Ini boneka kalo bisa aku makan, kayaknya udah habis gak tersisa saking imut."

Pandangan Arjuna melembut liat Yudis yang kelakuannya sama aja kayak dia. Kalo Yudis adalah eksistensi ter-manis sedunia bagi Arjuna, mungkin Yudis juga pandang dirinya sebagai hal yang sama. 

Ah, malu. Emang kursi minimarket ini bikin Arjuna jadi puitis.

"Aku masih ada tambahan," ujar Yudis sambil ngeluarin sesuatu dari kantong jaketnya. "Tada!"

Sepasang beanie rajut dengan ukuran super kecil yang gak mungkin muat di kepala manusia dewasa. Pasti buat boneka.

"Buat boneka?"

"Iyalah, masa buat kamu."

Boneka Yudis di tangannya Yudis ambil, terus dipasangin kupluk berwarna hijau. Boneka Arjuna juga dipakein kupluk warna merah. Demi apapun, tingkat kelucuan Yudis kecil jadi bertambah lima puluh kali lipat.

"Nah, biar kita matching."

Arjuna liatin Yudis kecil yang makin lucu itu sampe lupa merem. "Makasih, Yud... Kamu tau kan, kalo aku sayang banget sama kamu?"

Sedetik. Dua detik. Tiga detik. Yudis kok gak bersuara? Akibat kepo yang tak berujung, Arjuna rela buang waktu buat cek Yudis yang mogok bersuara.

"Yud?"

Kepala Yudis nunduk dan mukanya ditutup tangan.

"Jun... Aku gak kuat, kamu lucu banget... Gimana kalo kita samaan cincin di jari manis sekalian?"

Notes:

Temukan kami di Twitter: Tincan (akun barengan), Niiaaw selaku artist #keren, dan Mima selaku penulis #keren.

Series this work belongs to: