Actions

Work Header

Unexpected Stream Intruder

Summary:

Chaos. Sumpah, kedua nya memang sama-sama usil sampai membuat penonton pada live streaming Yudistira dibuat pontang-panting.

Notes:

n. NoteSun Fluff Week Hari Keenam dengan tema; Stream, Roommate, and Skincare Night.

(See the end of the work for more notes.)

Work Text:

 

 

 

Rutinitas mereka tiap menyambut akhir pekan selalu diisi dengan pertemuan yang berakhir dengan sesi menginap. Kali ini merupakan bagian Arjuna untuk mengunjungi rumah Yudistira yang kebetulan tidak jauh dari tempatnya. 

 

Setelah melewati lika-liku padatnya jalanan pada sore hari yang masih cukup panas hawa nya, Arjuna bergegas turun dari taksi online yang sudah ia bayar via e-wallet. Barang bawaannya pun masih dapat ditenteng dengan mudah, meski Arjuna sempat kewalahan karena harus membuka sendiri kuncian pintu rumah Yudistira. 

 

Seharusnya jadwal stream Yudistira berlangsung pada malam hari, namun Yudistira mengajukan waktu lebih awal yang untungnya disetujui oleh para penggemar. 

 

Arjuna tidak berani bersuara apapun ketika tungkai nya melangkah memasuki ruangan khusus untuk Yudistira melakukan sesi streamingnya. Manik abu nya hanya memperhatikan tubuh tegap Yudistira tengah memainkan game horror tanpa sedikitpun berjengit padahal jumpscare nya sudah beberapa kali menghampiri karakter yang dimainkan Yudistira. 

 

Malahan Arjuna lah yang merasa terkejut dan hampir saja mengumpat kaget. Merasakan kehadiran seseorang dari siluet bayangan, sontak saja Yudistira menoleh lalu mengagihkan senyum lebar kala mendapati Arjuna telah pucat paci seraya bersandar lemas di daun pintu sambil mengusap dada nya. 

 

Baru saja bilah bibir Yudistira ingin terbuka mengeluarkan sapaan lembut kepada Arjuna langsung ia diurungkan saat Arjuna menggelengkan kepala cepat dengan manik yang melirik ke arah layar monitor Yudistira berkali-kali. 

 

Yudistira mengangguk patuh. Ia berbalik sejenak untuk mendekati mic nya lalu mengeluarkan tawa pelan kala melihat livechat mempertanyakan pergerakan karakter game Yudistira yang tiba-tiba berhenti bergerak. 

 

“Maaf, maaf. Tadi temen sekamar ku lewat mau ambil barang.” 

 

Beragam respon pun kian memenuhi livechat Yudistira menanyakan perihal info yang baru saja Yudistira bagikan.

 

@MeiChan82648 Roommate? Sejak kapan Yudis punya temen sekamar?

@__Danganronpa Aku kira Yudis tinggal sendiri. 

@pretty_angel Cakep nggak rommate mu, Dis?

@193_esteh Coba ajakin collab temenmu, Yudis

@hahahihi Yakin itu beneran temen bukan penghuni gaib rumah mu? 

 

Arjuna yang diam-diam mendekati monitor Yudistira untuk membaca rentetan isi livechat itupun langsung mendelik kesal ketika membaca isi chat terakhir. 

 

“Kurang ajar, aku dikatain makhluk gaib.” Arjuna menggerutu seraya memundurkan langkah menjauh dari meja pc untuk menjaga jarak aman pada mic Yudistira. 

 

Yudistira melepaskan gelak tawanya. Ia menjulurkan salah satu tangannya meminta Arjuna untuk mendekat sejenak kearahnya. 

 

Arjuna menurutinya tanpa mengetahui niat apakah yang hendak Yudistira lakukan. Ketika ia sudah berada dekat pada jangkauan Yudistira, kekasihnya pun memutarkan kursi gamingnya untuk menghadap ke arah Arjuna lalu menjulurkan tangan guna merengkuh pinggang Arjuna erat dan menduselkan wajah pada perut Arjuna. 

 

Lenguhan pelan sempat hampir lolos dari bilah bibir Arjuna yang merasa kegelian karena tingkah Yudistira. Meski ingin mendorong Yudistira menjauh, jemarinya kini malah menyisir surai hitam yang sudah cukup panjang dengan sisi hijau nyentrik pada bagian kanannya. 

 

Manik abu itupun bergulir melihat deras nya livechat yang menanyakan keberadaan Yudistira karena menghilang tanpa mengatakan apapun. Tanpa sadar Arjuna terpaku pada salah satu chat di kolom livechat yang membuat kedua bahu nya menegang dan sekujur badannya merinding. 

 

@googo_gagaa Sabar guys, mungkin Yudis pelukan dulu sama roommate nya. 

 

Gila. Sumpah, gila banget. Tebakannya sangat akurat seratus persen sampai membuat Arjuna merasa yakin kalau penonton Yudistira yang ini sepertinya keturunan dukun dari ajaran Naia. 

 

Psstt.” Arjuna berbisik lirih. Ia menepuk puncak kepala Yudistira hingga membuat lelaki itupun mau tidakmau mendongak guna menatap Arjuna. Arjuna tidak mengatakan hal apapun, melainkan membiarkan manik abu nya melirik lagi ke arah pc Yudistira yang menampilkan fitur streamingnya masih menyala. 

 

Yudistira hampir menggeram menolak untuk melepaskan pelukannya dari pinggang Arjuna, namun bisikan lirih nan tajam yang diucapkan oleh Arjuna mampu membuat Yudistira seketika patuh dan tidak lagi protes. 

 

“Behave, Yudistira.”

 

Entah karena kejernihan pada mic tersebut atau hal lain, Arjuna sempat menelan ludah gugup saat menyadari kalau mic Yudistira mampu menangkap bisikan suara Arjuna yang telah diusahakan tersuara seminim mungkin. 

 

Kali ini beragam topik melenceng mulai memenuhi livechat streaming Yudistira, mereka mengomentari bisikan suara Arjuna yang sempat terdengar oleh mereka ataupun argumen lain yang mengatakan bahwa mungkin saja itu hanya kesalahan teknis. 

 

Arjuna tidak ingin ambil pusing dan menggubrisnya, ia hanya bisa berharap beberapa penonton melupakan kejadian tersebut dan tetap fokus pada live streaming Yudistira. 

 

Setelah Yudistira dengan enggan melepaskan pelukannya pada pinggang Arjuna, kini ia kembali menyapa sejenak para penonton live streaming nya lalu melanjutkan perjalanan karakter pada game horror tersebut tanpa mengindahkan ragam pertanyaan yang menanyakan perihal suara Arjuna tadi. 

 

Karena tidak ingin menggangu, Arjuna memutuskan untuk membiarkan Yudistira melanjutkan pekerjaannya sejenak. Sebelum melangkah keluar, Arjuna menyempatkan diri untuk mengusap lengan Yudistira dengan lembut yang tentunya mendapat balasan berupa genggaman erat dari tangan Yudistira meski hanya sebentar. 

 

Arjuna kini melenggang masuk kamar tidur Yudistira sembari meregangkan kedua lengannya. Kepalanya menoleh kearah jam dinding yang terpajang di dekat lemari pakaian Yudistira. Sudah pukul enam sore. Seharusnya sebentar lagi Yudistira selesai melakukan sesi streamingnya lalu mereka bisa makan malam bersama dan menghabiskan sisa waktu dengan bercengkrama tenang sambil menikmati dua box es krim yang tersedia di kulkas Yudistira. 

 

Begitulah rencana awal dalam fikiran Arjuna pada tiga jam yang lalu. Sekarang sudah pukul sembilan malam, Yudistira belum juga selesai dengan kegiatan streamingnya dan telah membuat Arjuna mati kebosanan di kamar. Meski sesekali Arjuna telah muncul di livechat Yudistira lalu meninggalkan komentar konyol hingga membuat Yudistira terkekeh geli kala membacanya. 

 

Di sisi ruangan lain pun sebenarnya Yudistira paham kalau Arjuna sudah menunggunya sedaritadi. Lihatlah tingkah menggemaskan kucing kesayangannya ini, membuat sebagian penonton Yudistira teralihkan karena kehadirannya seperti tengah mencari perhatian. 

 

@ArjunaArkana Hantu nya jelek

@ArjunaArkana Coba ketangkap sekali

@ArjunaArkana Lariiii

@ArjunaArkana 🙄

 

Yudistira tidakbisa menahan lengkungan bibirnya yang merekah naik sampai membuat L2D nya sangat terlihat tengah tersenyum. Ingin rasanya Yudistira berlari ke kamar tidurnya dan mendekap Arjuna sampai kekasihnya itu memberontak lalu melayangkan cakaran dari kuku pendeknya ke lengan Yudistira. 

 

Kemudian helaan nafas panjang dengan tawa pelan pun Yudistira keluarkan sebagai bentuk percobaan menenangkan diri nya sejenak. Ia memilih kembali fokus memainkan perjalanan karakter game tersebut yang kini tengah bersembunyi karena menghindari kejaran hantu. 

 

Arjuna masih sesekali muncul pada kolom komentar livechat nya, kali ini Arjuna nampak menanggapi beberapa penonton tengah menanyakan kegiatan apa yang sedang Arjuna lakukan. 

 

@ArjunaArkana Aku habis skincare-an ges 

@ArjunaArkana Akhir-akhir ini kulit ku kering

@ArjunaArkana Rekomendasiin skincare rutin kalian buat malem ☝

 

“Itu kulitmu kering karena kelamaan mendekam di ruang ber-AC kali.” Yudistira tanpa sadar menanggapi komentar Arjuna yang tertera di livechat. Kala ia teringat kalau seharusnya tetap fokus pada game nya, Yudistira dengan segera ia menggigit lidahnya dan merutuki kebodohannya dalam hati. 

 

Tolol. Kenapasih ia sulit mengendalikan mulutnya yang lancang sekali kalau sudah menyangkut perihal Arjuna. 

 

@ArjunaArkana Manaada karena AC

@ArjunaArkana Kurang vitamin C kali ya ges

@ArjunaArkana Vitamin ci—

 

Cukup sudah.

 

“Bentar, guys. Toilet dulu.” Tanpa memperdulikan ekspresi dari L2D nya yang tengah tergeser miring ke tepi layar, Yudistira segera melepas headphone dan mengaktifkan mode mute pada mic nya. 

 

Ia berlari menuju kamarnya untuk menangkap Arjuna yang rupanya tengah berjalan keluar layaknya bersiap melarikan diri ke dapur. 

 

“Aduh, Yudis! Ngapain kesini? Ih, lepasin aku— stop! Yudis, katanya mau ke toilet!” Arjuna kini tengah berjuang untuk menjauhkan wajahnya dari Yudistira.

 

Mulai dari kening, mata, hidung, pipi, bibir, bahkan sampai dagu tak luput dari kecupan yang tengah Yudistira berikan.

 

Arjuna merengek enggan, ia mencoba memalingkan kepalanya ke kanan-kiri seraya mendorong bahu Yudistira. Meski Arjuna tak sepenuhnya memakai tenaga nya untuk mendorong Yudistira, wajahnya terasa lembap dan basah karena tiada hentinya dibubuhkan kecupan. 

 

Cup. Cup. Cup. Cup. 

 

“Tiraaaaaa.” Rengekannya kian melengking, Arjuna kian pasrah kala merasakan pipi kanannya tengah digigit dan dihisap penuh tenaga oleh Yudistira. “Pwipwi akwu bwukwan mwochwi! Lwepwas!” (Pipi aku bukan mochi! Lepas!) 

 

Akhirnya Yudistira berhenti memakan wajah Arjuna dan mulai menjauh sejenak. Ia tidakmau membuat kucing kesayangannya merajuk nantinya.

 

Meski rona kemerahan yang menyeruak pada wajah dan telinga Arjuna makin menambah kesan menggemaskan, Yudistira hanya bisa menggigit bibir bawahnya dan mengunyel kedua pipi Arjuna layaknya squishy

 

“Gemes banget, sayangku.”

 

Arjuna menghela nafas panjang. Ia mencebikkan bibirnya yang semakin membentuk pout karena Yudistira masih betah menekan-nekan pipinya seperti mainan. 

 

“Kulitmu nggak kering gini kok, yang.” Yudistira tertawa pelan seraya melepaskan unyelan pipi Arjuna dengan perasaan tidak rela. “Mungkin karena kamu pake facewash ku kemarin makanya kerasa agak kering muka kamu.”

 

“Dari bulan lalu tuh kerasa kering kusam kulit ku, Tira.” 

 

“Terus kamu pake skincare apaan tadi?”

 

“Nggaktau, aku ngasal beli aja karena di rekomendasiin sama viewers. Cuma kayak nggak cocok di aku, malah pipi ku kemarin sempat tumbuh jerawat.”

 

“Iyakah? Dimana tuh, sayangku?”

 

“Disini.” Arjuna menunjuk sisi wajahnya bagian kirinya yang memang menampakkan bekas kemerahan membulat. “Padahal aku sudah ngurangin begadang terus makan yang bagus terus, tapi pas pake skincare malah begini.”

 

“Senin besok mau periksa di tempat spesialis kulit gitu nggak, yang?” Yudistira menjulurkan jemarinya untuk mengusap sisi wajah Arjuna dengan lembut. Manik hijau tersebut menatap kekasihnya intens sampai membuat Arjuna sempat mengira kalau Yudistira tengah marah padanya. 

 

“Mau aja sih. Kamu ikut nganterin, kan?”

 

“Iyalah, masa iya aku yang ngajak tapi ngebiarin kamu pergi sendiri.”

 

“Aku kira kamu marah, Tira.” 

 

Yudistira mengangkat salah satu alisnya ketika melihat Arjuna nampak menghela nafas lega. 

 

“Marah kenapatoh? Emang tampangku kayak orang lagi marah?”

 

“Iya tau.” Arjuna mendelik sinis, ia melipat kedua tangannya di dada lalu memalingkan wajahnya kesal. “Siapatau kamu mau ngomelin aku karena lalai nyoba-nyoba pake skincare.”

 

Tiada yang bisa Yudistira lakukan selain melepaskan tawa nya lalu bergerak memajukan wajah guna mencium sisi wajah Arjuna yang kini beringsut mundur. 

 

“No cium-cium.” Tatapan galak yang diarahkan ke Yudistira terlihat begitu membahayakan layaknya siap menerbangkan cakarnya untuk menggaruk Yudistira tanpa ampun. 

 

Apakah Yudistira gentar? Tentu saja tidak. Buktinya ia kian agresif untuk mencuri kecupan singkat pada bilah bibir Arjuna yang hendak mengomel. Setelahnya Yudistira belari kembali menuju ruangan khusus streamingnya kala menyadari ketidakhadirannya sudah cukup lama. 

 

Arjuna bersungut kesal. Ia menghentakkan kaki nya mengikuti langkah Yudistira dengan tatapan mata memicing tajam. Ketika ia melihat Yudistira telah mengobrol dan menyapa para penontonnya lagi, Arjuna tanpa sengaja sempat menguping alasan singkat yang tengah disampaikan oleh Yudistira. 

 

“Roommate ku tadi butuh bantuan, guys. Maka nya aku tolongin dulu. Sorry lama, ya.”

 

Sebersit senyuman tipis teragihkan pada sudut bibirnya. Arjuna menyandarkan tubuhnya pada daun pintu sambil menahan tawa nya mendengar dongeng lainnya yang dikatakan Yudistira. 

 

“Beneran guys, kok kalian kayak nggak percaya. Memangnya kalian ngira aku habis ngapain tadi? Boker? Nggak salah sih, aku memang sempet ngerasa agak mules tadi.” Yudistira nampak terkekeh pelan melihat penontonnya menanggapi celotehannya dengan beragam komentar. 

 

@vivimichikow Pendongeng handal

@Aino_katana Nyang mener banh

@MIRAI_ Welcome back, udah kelar bokernya? 

@Sorayuki8 Iyain aja asalkan kamu seneng, Dis

@KecambahRebus Aku kira kamu ketiduran

 

“Aku masih disini. Kita lanjut lagi ya, guys. Kalau sampe jam sembilan nanti belum kelar, kita jeda terus dilanjut besok, ya? Kalian pasti capek sudah nemenin aku dari sore.”

 

Entah mengapa Arjuna tiba-tiba merasa gatal ingin sekali membalas ucapan Yudistira yang terlalu bertele-tele. Kemudian dengan sengaja, Arjuna melangkah mendekat dalam diam lalu berdehem untuk memastikan suara nya tidak terlalu keras namun tetap tertangkap oleh mic untuk masuk ke live streaming Yudistira. 

 

Inginnya tadi Arjuna hanya mengucapkan perkataan asbun saja tetapi lidahnya tergelincir dan malah mengucapkan perkataan ambigu yang membuat Yudistira seketika menoleh dengan raut wajah shock. 

 

“Tira, kenapa aku ditinggal sendirian di kamar.”

 

Kacau. Komentar pada livechat Yudistira langsung meledak sampai membuat Yudistira tergagu untuk sekedar mengeluarkan pembelaan. Bingung. Yudistira tengah kewalahan sementara Arjuna malah tertawa lepas dan melangkah berjalan keluar dari ruangan streaming Yudistira dengan senyum penuh kepuasan.

 

“Guys, tenang dulu, ya. Tadi tuh memang suara nya Arjuna, tapi itu bukan Arjuna. Eh, gimana sih? Maksudnya ya begitu lah pokoknya. Intinya itu cuma roommate ku aja, kok. Orangnya mirip Arjuna dikit. Eh, nggak deh, nggak mirip. Arjuna lebih cant— halah, nggaktau lah aku, guys.”

 

Arjuna membiarkan Yudistira seorang diri menghadapi kerusuhan dari ulah jahilnya. Lagipula sekali-kali menjahili Yudistira tidak ada salah, kan? Setidaknya kebosanan Arjuna sudah menguap bergantikan kegembiraan melimpah tanpa memperdulikan bagaimana respon penggemar mereka di esok hari. 

 

Mungkin bisa saja besok mereka dirumorkan tengah berpacaran dan tinggal serumah. Iyasudah, Arjuna tidak masalah dengan hal tersebut. Toh, itu keinginannya sejak lama hanya saja Yudistira tak kunjung mengajaknya untuk tinggal bersama. 

 

Getaran pada ponselnya membuat Arjuna menoleh sejenak. Ia menahan tawa melihat beragam isi pesan Discord dari teman-temannya serta iMess pribadi dari Yudistira nampak memelas seakan membutuhkan pertolongannya. 

 

... 

Ngeselin. 

> yang, tolong aku.. 

> bentar lagi kita dirumorin udah nikah inimah

 

Me. 

> Baguslah

 

Ngeselin.

> LOH

... 

 

Arjuna melempar ponselnya secara asal ke sisi kasur Yudistira yang cukup luas. Ia merebahkan diri dan membiarkan maniknya terpejam perlahan. Arjuna bahkan menepis keinginannya untuk mengecek stream Yudistira saat ini karena telah terlampau lelah. 

 

Biarlah. Arjuna senang bila dijodoh-jodohkan dengan Yudistira meski harus menahan rona kemerahan pekat akibat malu ketika melihat banyaknya penggemar menggoda mereka pada linimasa di beragam sosial media. 

 

 

 

 

 

Notes:

Ini stream yang ada di khayalan penulis aja ya guys, takut bgt nanti tiba-tiba ada yang nanya doksli 💀