Chapter Text
Setiap pagi, kamu selalu disambut oleh wajah tidur kekasihmu. Kamu membawa tanganmu ke wajahnya untuk menyingkir rambut yang menghalangi. Tiada lagi kerutan di dahinya maupun kantung mata yang menghiasi. Entah kenapa pagi ini Sara terlihat seperti segar. Tak sengaja kamu memegang pipinya dan itu membuat mata Sara terbuka. Mata keemasan yang biasanya menatap dengan tajam, kini menatapmu dengan lembut.
"Ah, selamat pagi. Maaf membangunkanmu."
Ia menghentikan apapun yang ia lakukan tadi dan membawa bibirnya ke pipimu, kecupan dari kesayangan yang selalu dilakukan untuk menyambut pagimu dan tidak lupa kamu membalasnya. Jauh di dalam hati kamu ingin sesekali mengambalikan ciuman pagi itu, tapi selalu saja dia yang bangun terlebih dahulu. Kamu ingin hendak ingin melakukannya namun terlewat begitu saja dalam pikiranmu.
"Mmhm, slamat pagi Sara… Hari ini libur? Aku tidak melihat seragammu."
Sara mengangguk, "Kemarin kamu sudah berjanji hari ini kita akan… berkencan kan?. Tapi sepertinya, kita akan berangkat agak siangan."
"Haa?!" Kamu langsung mengambil posisi duduk dan memegang pundak Sara.
"Apakah aku telat bangun? Oh! Punggungmu Sara, apakah sakit?" Kamu teriak di depan wajah Sara, pertama dengan ekspresi kebingungan lalu khawatir mengingat luka di punggung Sara.
"Oh itu, itukan perbuatanmu semalam."
Mendengar jawaban Sara, kamu terdiam. Berusaha mengingat-ingat…
bibir Sara dan bibirmu yang saling memperebutkan dominasi dan tangannya menjelajahi tubuhmu—
Wajahmu kini memerah, kamu menggelengkan kepalamu berusaha untuk tidak mengingat lagi kejadian semalam.
"Ah um… Ma-mari kita lupakan sejenak. Sara diam saja disini, aku akan mengambil—"
Sara hendak tanya apa yang ingin dirimu ambil, tapi kakimu telah melangkah keluar kamar. Tak lama, kamu kembali membawa kotak kecil putih dan baskom.
"Aku akan membersihkan luka di punggungmu dan sayapmu… Apakah boleh?"
Tatapan halus Sara membuatmu sedikit lebih tenang. "Mhm, tentu saja. Kenapa masih bertanya kepadaku, kamu bisa langsung saja kok. Kita kan sudah berjalan lama, aku tidak ingin masih ada keraguan."
Perjelas Sara sambil ia berdiri dan membantumu menaruh baskom di meja.
"Ah, makasih. Yah, aku bakal menyentuh dan membersihkan tubuhmu Sara. Tentu aku akan bertany— atau mungkin kamu ingin sering kusentuh, hm?"
Tiba-tiba ide untuk menjahili Sara muncul di enakmu. Memang selama ini Sara lah yang memulai, mulai dari bergandengan tangan atau hanya menyentuh bagian-bagian tubuhmu, lalu ciuman pertama, sampai malam pertama kalian, semuanya Sara yang memulai.
Mungkin itulah love language Sara, berbeda denganmu yang selalu ingin berada disampingnya dalam artian menemaninya setiap saat. Kamu peka terhadap hal-hal kecil dalam hubunganmu dan Sara. Kamu suka membuatkannya bekal, menyiapkan makanan atau jajan untuknya, merencanakan kencan atau hal yang lain, yah intinya kamu suka memberinya perhatian dan membuat Sara senang. Hal itu menjadi salah satu alasan dari banyaknya alasan mengapa Sara ingin menjalin hubungan yang serius denganmu.
“Eh, yaa hal itu tidak bisa ku bantah sih.” Ucap Sara sambil mengambil posisi yang enak.
Matamu terbelalak dan mulutmu terbuka lebar melihat saat melihat punggung Sara yang lebih jelas dari waktu bangun tidur tadi. Otot kekar punggungnya selalu membuatmu kagum walau sudah melihat berkali-kali saat mandi bareng, namun kali ini di atasnya terdapat luka cakaran disana sini, ada yang tebal dan tipis. TIdak hanya di punggung, pundaknya pun terdapat beberapa bekas gigitan yang untungnya tidak menimbulkan luka, lehernya pun tidak terbebas dari cupang yang dihasilkan oleh dirimu.
“Oh Sara… maaf telah menyakitimu.”
Kamu memeluk Sara dari belakang dan menyandarkan kepalamu di punggungnya, tangannya menggenggam tanganmu.
“Aku… aku sebenarnya ingin membiarkan bekas luka itu.”
“K-kenapa? Luka ini mengotori punggungmu yang indah.” Katamu sambil menyentuh luka itu.
“Kenapa ya, aku merasa kalau luka ini adalah tanda bahwa aku telah mendapatkanmu. Mendapatkan dirimu, kasih sayangmu, waktumu, dan perhatianmu. Juga tanda bahwa aku telah dimiliki oleh dirimu seorang, tanda bahwa kerja kerasku untuk mendapatkanmu telah terbayar. Ahaha… aneh ya.”
3 tahun, kerja keras Sara selama 3 tahun terbayarkan. Awalnya Sara mengamatimu karena kamu paling mencolok diantara para prajurit yang Sara pimpin. Kamu sering telat dan mengantuk saat latihan memanah di pagi hari, namun bakat memanah mu hampir bisa menandingi Sara. Saat itu Sara geram karena prajuritnya, kamu, lebih santai daripada yang lain. Sara pun akhirnya tahu alasan dibalik keterlambatanmu dan mengecualikan mu.
Pernah saat perang sengit di Watatsumi, para Shogunate telah kalah jumlah, sang General yang luka berat hanya bisa menopang dirinya dan memerintah pasukannya untuk mundur. Tapi kamu menolak dan meminta izin untuk mengambil alih Shogunate, Sara membantahnya tapi melihat kegigihan di matamu dan tanganmu yang menggenggam erat panahmu membuat Sara yakin, jika gagal maka kamu akan dikeluarkan dari Shogunate, selamanya.
Dan iya, mempercayaimu adalah jalan terberat namun jalan terbaik yang Sara ambil. Para Shogunate berhasil memukul mundur pasukan Watatsumi tanpa adanya korban. Mereka semua berterimakasih padamu dan tentunya General mereka, Sara, yang masih terkejut dengan caramu yang memiliki kesempatan kecil untuk berhasil menurutnya. Sebagai General, keselamatan Shogunate adalah yang terpenting dan ia hampir dibutakan oleh hal itu, tapi dengan caramu itu kamu berhasil membuat Sara menyadarinya.
Saat Sara menaikkan pangkat mu menjadi bawahannya, lebih tepatnya ahli siasat Shogunate, kamu menolaknya dengan “Kamu saja sudah cukup General.” hanya itu alasan yang kamu lontarkan. Walaupun Sara menyayangkan kesempatan besar ini, ia tetap menghargai keputusanmu. Sekalipun kamu menolak menjadi ahli siasat Shogunate, kamu tetap membantu Sara, memberikan solusi dan saran yang tentunya Sara terima dengan baik.
Pertemuan demi pertemuan, yang awalnya formal menjadi lebih santai. Kamu mulai membawa bekal mu yang sepertinya terlalu banyak untuk dimakan sendiri dan kamu memaksa Sara untuk membantumu menghabiskannya.
“Kenapa kamu menolak? Kamu bisa menggunakan bakatmu untuk membawa Shogunate menuju kemenangan. Oh, ini enak juga.”
“Oya? Itu pertama kali bikin, sempat ragu mau kubawa atau tidak. Yah, Aku hanya ingin membantumu Sara, aku tidak meminta imbalan apapun. Aku cukup mengetahui bahwa dengan adanya bantuanku kamu dapat tidur 1 jam lebih cepat. Dan itu sudah membuatku senang. Persetan dengan jabatan, aku lebih suka menjadi orang yang biasa-biasa saja.”
Sara pun mengikuti sandiwaramu, namun ia masih penasaran dengan strategi-strategi yang kamu berikan. Walaupun banyak kejanggalan yang tentunya sudah berkali-kali Sara tanyakan, dirimu enggan menjawabnya.
Suatu hari, para prajurit telah berkumpul untuk latihan pagi tapi kamu tak ada di barisan tersebut. Dirimu yang sering terlambat membuat Sara hanya menggelengkan kepala dan melanjutkan menarik busurnya.
'thok' 'thokk'
Penantian berujung kekhawatiran. Banyak prajurit telah mengakhiri latihannya, tapi kamu tak kunjung datang. Sara berpikir bahwa hujan semalam membuatmu pulang terlalu malam dan berakhir dengan bangun kesiangan.
"Jangan-jangan?"
…kamu bolos?
