Actions

Work Header

Lucid Dream

Summary:

Youngjae telah kehilangan sesuatu yang sangat berharga baginya di masa lalu. Dan ia bersedia melakukan apapun agar ia bisa kembali mengulang waktu dan memperbaiki segalanya, lalu membawa sesuatu tersebut untuk kembali 'hidup' bersamanya.

Chapter Text

Youngjae telah kehilangan ‘sesuatu’ yang sangat berharga dalam hidupnya.

Terpisah karena kematian adalah kejadian yang paling ia takutkan; disaat perlahan ia lupa bentuk wajah orang itu, suara orang itu dan bagaimana tatapan lembut mata dengan obsidian hitam milik orang itu. Ingatannya setiap harinya seperti pasir pantai yang tergerus setelah diterjang ombak dan terbawa perlahan menuju lautan.

Hidup yang ia jalani sekarang adalah impiannya bertahun-tahun lalu, menjadi seorang mahasiswa di kampus yang selalu ia dambakan. Memiliki rutinitas layaknya mahasiswa; ikut acara jurusan, nongkrong hingga larut malam, mengerjalan tugas yang mengambil alih waktu tidurnya — itu adalah impiannya.

Impian yang ia tulis bersama seseorang yang Youngjae perlahan lupa akan suaranya.

Impiannya terwujud, dan hari-hari tetap Youngjae lewati. Namun, hatinya kosong. Tubuh itu bagaikan cangkang yang tidak ada penghuninya. Tubuhnya mungkin terus bergerak, namun jiwanya tidak lagi pada tempatnya. Orang itu pergi meninggalkan Youngjae dan juga membawa seluruh jiwa Youngjae dengannya.

Kehilangan orang itu membawa Youngjae pada hari-hari penuh penyesalan, seolah-olah kepergian orang itu adalah kesalahnya. Kesedihan yang menumpuk, membuatnya tidak lagi berpikir logis sebagaimana dirinya di masa lalu. Ia mulai mempercayai mitos yang akan dianggap gila oleh teman-temannya.

Youngjae yang dulu bahkan tidak percaya hantu, tidak percaya Santa Claus. Namun, disinilah pria itu sekarang; di sebuah perpustakaan di antara gedung-gedung kampus dengan tumpukan waktu yang mempelajari tentang Time Machine.

Youngjae ingin kembali ke masa lalu dan memperbaiki segalanya.

Jihoon dan Kyungmin akan selalu menganggapnya gila, namun di waktu yang sama tidak pernah meninggalkan Youngjae berduaan saja bersama tumpukan buku yang berisi omong kosong itu. Mereka akan sibuk dengan buku masing-masing, Jihoon dengan komiknya dan Kyungmin dengan novel teenlit-nya. Mereka berbagi keheningan.

Youngjae akan berdiri dari duduknya saat alarm pada smart watch miliknya berbunyi; jam 5 sore. Junghwan — yang paling tua antara mereka selalu memberi peringatan agar Youngjae tidak terlalu larut dalam dunia khayalannya itu, maka batasnya adalah jam 5 sore atau tidak ada lagi buku-buku bagi Youngjae.

Junghwan setahun lebih tua dari Youngjae yang juga satu tingkat di atas Youngjae, pria itu bekerja paruh waktu pada perpustakaan kampus mereka. Setiap jam 5 sore Junghwan akan berjalan ke arah meja yang Youngjae tempati, “Jam 5.” ujaranya.

Hanya itu, dan Youngjae akan menutup semua bukunya dan berjalan keluar perpustakaan. Pernah sekali ia melanggar perintah itu dan keesokan harinya Junghwan bahkan tidak mengizinkannya untuk masuk selangkah ke dalam perpustakaan. Perpustakaan lainnya di kota ini tidak memiliki koleksi yang lengkap sebagaimana yang kampusnya miliki, dan alasan lain karena Youngjae sudah membaca semua buku-buku itu. 

Notebook usang miliknya itulah saksi bisu perjalanan Youngjae mencari jawaban selama lebih dari setahun. 

Di perjalanan pulang bersama Jihoon dan Kyungmin kadang mereka singgah ke kedai makanan untuk makan malam. Dulu, Youngjae akan dengan semangat menceritakan progressnya pada Jihoon dan Kyungmin, dan dua pemuda itu dengan senang hati mendengar ocehan Youngjae. Bagi mereka setidaknya mereka bisa melihat sosok Youngjae yang dulu walau hanya sesaat; Youngjae yang tersenyum tulus di setiap kata yang ia lontarkan.

Namun, hari demi hari mereka bisa melihat cahaya itu mulai redup lagi. Youngjae akan lebih banyak diam, tidak lagi menceritakan penemuan-penemuannya tentang mesin waktu. Sedikit yang mereka paham, bahwa Youngjae pelahan mulai kehilangan harapannya.

Di kamar yang selalu gelap itu, Youngjae akan kembali sibuk dengan dunianya. Hanya dengan cahaya dari monitor laptopnya, tidak membuatnya berhenti untuk mewujudkan mesin waktu yang tidak nyata itu. Bahkan jika waktu tidurnya semakin menipis, ia tidak peduli. Ada satu hal yang harus ia capai.

Hari-hari berlalu, dan Youngjae semakin suram. Tidak ada lagi binar di wajahnya, bahkan mulai terlihat lingkaran hitam yang makin jelas di bawah matanya. Wajahnya semakin tirus, tugas-tugas kuliahnya terabaikan, tidak jarang ia tertidur di kelas. Dan di titik ini, Junghwan mulai muak.

Di meja kantin, Youngjae hanya diam bahkan tidak menyuap makanannya. Dan salah satu pasang mata menatapnya nyalang, “Mau sampai kapan lo kayak gini?”

Suara Junghwan menghentikan pergerakan dari empat orang disana. Youngjae sendiri yang merasa perkataan itu tertuju padanya hanya membalasnya dengan tatapan singkat dan kembali menunduk. Tidak tertarik dengan konfrontasi yang coba Junghwan mulai.

“Youngjae gue ngomong sama lo.”

Jihoon, Kyungmin dan Hanjin hanya bisa saling bertatapan tanpa mengeluarkan suara apapun, takut jika mereka mencoba menimpali maka keadaan akan bertambah keruh.

Youngjae tetap tertunduk, lalu membalas ucapan Junghwan, “Apa?”

“Mau sampai kapan gue tanya.”

“Sampai berhasil lah, apa lagi coba.” 

Junghwan mengigit bibirnya tanda ia sedang menahan gejolak amarahnya. Yang ia hadapi sekarang seperti bukanlah manusia yang bernyawa, namun bagai hanya tubuh yang dipaksa untuk berfungsi. Tidak ada jiwa disana. Dan Junghwan semakin membenci dirinya yang lagi-lagi gagal menjadi seorang kakak tertua bagi mereka.

“Jae —  semua ini mustahil. Bahkan kalau lo buat mesin waktu, alat-alatnya gimana? Mahal, Jae. Uang darimana? Dan belum ada bukti konkrit seseorang bener-bener menyebrang lewat mesin waktu. Ini semua sia-sia, lo cuma bikin capek badan dan pikiran lo — ”

“Terus kasih tau ke gue gimana caranya gue balik ke masa lalu dan memperbaiki semuanya.”

Junghwan menghela nafas berat, “Gak bisa. Lo gak bisa kembali ke masa lalu. The past is in the past, dan lo harus move on. Jalani hidup yang sekarang dan berhenti menyesali masa lalu.”

“Terus Dohoon — ”

“Dohoon udah gak ada!” Suara Junghwan tidak sengaja meninggi. Ia muak dan lelah. Karena berapa kali pun Youngjae mengelak, Dohoon tidak lagi hidup di antara mereka. Dohoon sudah lama pergi dan tidak ada cara untuk membawa orang mati bangkit dari kuburnya dan berkumpul lagi bersama mereka.

Jihoon menepuk lengan Junghwan, memberi isyarat untuk berhenti karena Youngjae kali ini benar-benar sudah di tepi jurang. Pilihan Youngjae hanya dua, menjauh dari tepi jurang atau jatuh ke dalam jurang. Pemuda itu kemudian pergi dari meja itu, pergi entah kemana tanpa ada yang mengikutinya. Karena mereka tau, yang Youngjae butuhkan adalah waktu sendiri hanya bersama hembusan angin.

“Kak Junghwan, tanpa lo bilang pun Kak Youngjae juga tau dia gak akan berhasil.” Hanjin bersuara sambil terus melihat sosok Youngjae yang perlahan menghilang dari pengelihatan mereka, “Penyesalannya melebihi jalan logikanya.”

“Yang kehilangan Dohoon gak cuma dia, dek.” Junghwan menjawab dengan lemah. Topik ini selalu mereka hindari karena rasa sakit yang akan selalu mendominasi. Tidak ada satupun orang di dunia yang siap ditinggalkan oleh orang yang terkasih. 

Mereka sama rapuhnya.

Namun yang tinggal serpihan hanyalah Youngjae.

Karena Dohoon pergi membawa jiwa Youngaje. Dohoon adalah separuhnya. Dan bagaimana Youngjae tetap hidup saat separuh jiwanya meninggalkannya begitu saja.

Langkah kaki yang bagai punya pikirannya sendiri itu akhirnya berhenti pada stasiun kereta api yang setiap bulan selalu Youngjae kunjungi. Ia membolos dua kelas dan membiarkan ponselnya bergetar di tasnya, ia yakin itu hanyalah teman-temannya yang menanyakan keberadaannya.

“Permisi, Mas. Mau beli tiket.” 

Youngjae memesan tiket kereta menuju kampung halamannya yang berjarak hampir 5 jam perjalanan dengan kereta api, ia pasti akan tiba di tempat tujuannya saat matahari sudah terbenam. Tiket berhasil ia dapatkan, namun ia harus menunggu untuk keretanya datang.

Youngjae memilih diam sambil melihat orang berlalu-lalang. Orang-orang yang tidak Youngjae ketahui membawa beban apa saja di pundak mereka, namun mereka tampak ‘berfungsi’ atau mungkin ‘dipaksa berfungsi’ seperti dirinya. 

Satu yang Youngjae sadari, bahwa dunia tidak akan berhenti berputar dan bahkan orang-orang tidak akan peduli dengan keadaan dirinya. Mereka akan sibuk dengan diri mereka, dan tidak ada satu pun dari mereka yang akan menyadari betapa inginnya Youngjae melompat ke rel kereta api saat itu juga.

Namun sebenarnya dunia Youngjae sudah berhenti dua tahun lalu, disaat ia kehilangan orang yang sangat ia cintai.

“Dohoon, kasih gue alasan kenapa gue harus tetep hidup. Kan kata lo mau nikahin gue, anjing ya lo pergi bawa janji lo gitu aja.”

Youngjae berkata entah pada siapa, angin mungkin. Ia memjamkan matanya, memorinya kemudian terlempar ke masa dimana masih ada Kim Dohoon yang bisa ia raih.

 

 

Tipe ideal lo yang kayak gue kan, Jae?

Masih siang, gak usah mimpi lo.

Emang lo gak mau nikah sama orang seganteng gue?

Jadi ‘orang’ dulu sana baru ngomongin nikah. Lo aja iket tali sepatu masih remedi.

Terus kalau gue udah jadi ‘orang’, lo mau gak gue nikahin?

Apaan sih, Do.

Ya mau gak?

Jadi sukses dulu sana.

Oke! tunggu gue jadi sukses, ntar gue isi jari manis lo itu pakai cincin dari gue.