Actions

Work Header

The Notes

Summary:

Solar is the kind of crazy scientist who treats everything like an experiment—including what happens in bed with Hali. He documents it all like a lab report in a notebook. A notebook that Hali eventually finds.

Notes:

(See the end of the work for notes.)

Work Text:

Halilintar tertidur di atas ranjang dengan kaos yang sedikit lebih besar untuk tubuhnya. Banyak bekas merah terlihat di kulitnya yang sedikit pucat itu—di leher, di pangkal paha, bahkan di pinggulnya. Namun ia bersih dari cairan apa pun yang mungkin tersisa dari kegiatan mereka tadi. 


Di meja belajar, Solar duduk hanya dengan boxer hitam. Punggungnya di hiasi cakaran merah, cahaya remang hp-nya menerangi sebelah wajahnya yang serius. Pen di tangannya bergerak cepat di atas kertas buku bersampul hitam, menuliskan sesuatu. 


xx.xx.xxxx

22.49


Aktivitas seksual berlangsung 50 menit, dengan foreplay 15 menit dan penetrasi 35 menit. Pihak pertama (Halilintar) orgasme sebanyak tiga kali. Pihak kedua (Solar) orgasme dua kali.


Tes 1: Efektivitas daerah sensitif, stimulasi gigitan dan jilatan.

  • Leher: memicu desahan pada 7 dari 10 percobaan
  • Dalam paha: 10 dari 10 stimulasi
  • Telinga: 5 dari 10 stimulasi

Kesimpulan: Untuk aktivitas seksual kedepannya, perbanyak stimulasi pada bagian dalam paha.


Tes 2: Ritme penetrasi.

  • Lambat konsisten (30-40/menit): 6 dari 10 memicu desahan, 2 dari 10 memicu gerakan pinggul mengikuti
  • Cepat konsisten (70-80/menit): 9 dari 10 memicu cakaran di punggung, 4 dari 10 memicu "jangan berhenti"
  • Campuran: 10 dari 10 memicu nama pihak kedua disebut, 8 dari 10 memicu orgasme bersamaan

Kesimpulan: Ritme campuran merupakan ritme paling tepat.


Solar tidak sempat menulis kesimpulan akhir. Karena ada tangan yang mengambil buku itu dari belakang.

 



Halilintar terbangun dari tidurnya, tangannya menjulur ke sisi lain ranjang, meraba-meraba. 


Kosong. 


Solar tidak ada di sampingnya. Halilintar akhirnya membuka mata, mencari Solar. 


Kepalanya berputar ke arah cahaya redup dari meja belajar, di situ Solar sedang menulis sesuatu dengan wajah yang sangat serius.


Dan Halilintar penasaran. Apa yang Solar tulis hingga harus menulisnya di tengah malam? Dan menyembunyikannya dari Halilintar.


Ia turun dari ranjang tanpa suara—kaki telanjangnya menapak lantai dingin, kera kaosnya terlalu lebar, memperlihatkan sebelah pundaknya. Ia mendekat dari belakang Solar dengan perlahan, tanpa suara. 


Solar terlalu fokus menulis hingga tidak menyadari keberadaan Halilintar tepat di belakangnya.


Halilintar mengintip dari atas bahu Solar, membaca tulisan pada buku itu. Baru membaca kalimat pertama, dan Halilintar sudah tidak ingin membaca buku itu dengan lebih teliti lagi.


Ia tahu pacarnya ini tidak sepenuhnya normal. Gila, bahkan. Tapi ia tidak siap untuk kegilaan tingkat ini. 


Halilintar meraih buku catatan itu dari tangan Solar.


Solar tersentak. Kepalanya menoleh cepat, matanya melebar—ekspresi panik yang jarang terlihat dari dirinya. “Hali—”


“Efektivitas daerah sensitif?” Hali membacakan dengan suara datar. Jarinya membalik halaman catatan itu ke depan. Matanya menelusuri isi catatan itu dengan sekilas. Grafik kecil. Durasi. Frekuensi. Jumlah orgasme.


Solar berdiri dari kursinya cepat, tangannya berusaha meraih buku itu. 


“Itu bukan—gue bisa jelasin—”


Halilintar menutup buku itu dengan kasar. Ia ingin marah. Sungguh. Tapi ia memang tahu cara pikir Solar selalu berbeda dengan orang normal. Caranya menunjukkan bahwa dia peduli juga berbeda. 


"Jelasin?" Halilintar menatap Solar. "Lu nyatet ritme penetrasi? Efektivitas daerah sensitif? Jumlah orgasme?"


Solar diam. Mulutnya terbuka, lalu tertutup lagi.


"Jawab, Solar."


"...Iya," akhirnya Solar menjawab lirih. 


"Gue catet semuanya."


Hali menarik napas panjang. Lalu menghembuskannya. Lalu menarik lagi.


"Solar."


"Ya?"


"Lu udah nulis ini sejak kapan?"


Solar membuang muka. "Dua bulan lalu."


Dua bulan. Berarti sejak mereka pertama kali—oh. Hali teringat pengalaman pertama mereka yang kaku itu. Gerakan Solar yang seperti patung. 


Halilintar tidak tahu harus marah atau tertawa.


"Lu nulis laporan eksperimen, tentang kita. Di kasur.”


Ia menghela napas panjang lagi.


"Gue tau lu gila, tapi ga begini juga.”


Solar terdiam, tetapannya turun sebentar ke buku catatan di tangan Halilintar sebelum kembali menatap wajahnya dengan hati-hati. Seperti sedang menebak seberapa marah Halilintar sekarang.


“Gue cuma…” Solar berhenti sebentar. “Gue ga pengen bikin lu ngerasa ga nyaman lagi.”


Halilintar memejamkan mata sesaat sambil menghembuskan napas panjang. Kalau orang lain yang melakukan ini, mungkin Halilintar sudah melempar buku itu ke muka mereka dan pergi malam itu juga. Tapi Solar memang selalu seperti ini, terlalu serius, terlalu berlebihan saat menyangkut sesuatu yang ia pedulikan.


Buku itu ia letakkan ke atas meja, lalu Halilintar menarik Solar untuk ke ranjang.


"Gue terlalu lelah ngurusin ini sekarang, tidur dulu,” suaranya lebih rendah dari tadi. 


"Besok ngomongin lagi.”

 



Besok malamnya, Halilintar masih memikirkan catatan itu.


Dan semakin dipikirkan, ia semakin kesal. Karena isi catatan itu terlalu akurat. Solar dengan caranya sendiri mempelajari semua kebiasaan Halilintar. Sekarang, Solar mungkin bahkan lebih mengenal Halilintar daripada dirinya sendiri.


Dan Halilintar membenci fakta itu. 


Jadi malam itu, Halilintar memutuskan satu hal. Ia akan membuktikan bahwa Solar tidak selalu bisa mengendalikan semuanya.


“Jangan gerak.”


Solar yang tadinya hendak menyentuh pinggangnya langsung berhenti.


Tatapannya naik perlahan ke wajah Halilintar yang sedang duduk di pangkuannya. 


“...Oke.” 


Nada suaranya terlalu tenang. Seolah ia sudah memperkirakan akan adanya ‘hukuman’ ini.


Halilintar semakin kesal karenanya. 


Ia menarik kedua tangan Solar ke atas kepala ranjang lalu mengikat pergelangannya dengan tali kain yang sudah disiapkan sebelumnya.


Tidak terlalu erat. Hanya cukup untuk membuat Solar diam. 


Solar memperhatikan semua gerakannya tanpa protes sedikit pun. Dan itu membuat Halilintar salah tingkah. 


“Kalau lu terus ngeliatin gue kayak gitu, gue tutup mata lu sekalian.”


Solar mengedipkan mata. “...Lihat aja ga boleh?”


“Ga.” 


Solar mengedipkan matanya lagi. Tapi ia tidak membantah, hanya diam dengan tangan terikat ke atas kepala dan mata terpejam.


Halilintar menatap wajah Solar sejenak. 


Tatapan Halilintar berhenti di leher Solar yang terekspos jelas dalam posisi itu. Tidak banyak bekas dari malam sebelumnya. Halilintar baru sadar, selama ini Solar selalu meninggalkan bekas di tubuhnya. Namun, jarang sebaliknya. 


Giliran gue sekarang. 


Halilintar membungkuk.


Bibirnya menyentuh leher Solar—tepat di bawah rahang. Bukan ciuman biasa, tapi hisapan pelan. Solar menarik napas tajam, tapi tidak bergerak.


“Ini balasan,” bisik Halilintar di kulit Solar. 


Ia pindah ke sisi leher yang lain. Digigit halus, lalu dijilat. Tangannya yang bebas meraba dada kiri Solar. Jantung Solar di bawah telapak tangannya berdetak cepat.


“Jantung lu cepat banget,” komentar Hali.


“Elu di atas gua, tangan gue diikat, dan lu gigit leher gue,” jawab Solar, suaranya serak. “Harusnya lu udah tau penyebabnya”


Hali tersenyum puas.


Dia turun sedikit. Mencium tulang selangka Solar. Lalu menggigitnya—tidak keras, tapi cukup untuk meninggalkan bekas merah. Solar menghela napas panjang.


“Hali.”


“Hmm?”


“Lu kejam.”


Halilintar terkekeh kecil.


Ia terus meninggalkan jejak. Di dada kiri, tepat di atas jantung. Di bagian pundak. Dan Solar di bawahnya hanya bisa menggigit bibir sendiri, tangannya mengepal di atas kepala. 


Halilintar naik ke bibir Solar—ciuman cepat, lalu menjauh sebelum Solar sempat membalas. Solar mengerang kecil—frustrasi.


Halilintar tersenyum kecil melihat Solar yang wajahnya memerah. 


Halilintar bisa merasakan panas tubuh Solar yang semakin jelas di bawahnya, bergesekan tiap kali ia bergerak sedikit.


“Belum disentuh aja udah keras begini?” Nadanya jelas mengejek pemuda di bawahnya.


Ia turun ke bawah lagi, wajahnya hanya beberapa inci dari boxer Solar. Lalu, ia mencium bagian boxer Solar yang sudah mulai basah.


Matanya Solar langsung terbuka. Napasnya tersengal—tangannya yang terikat menarik tali kain itu hingga tegang.


“Hali—” suaranya serak, terputus.


“Belum apa-apa ini,” bisik Halilintar.


Halilintar akhirnya menarik boxer Solar ke bawah. Perlahan, sengaja lambat. Solar menggigit bibir bawahnya lebih keras, menahan dirinya dari bergerak. 


Halilintar menjulurkan lidahnya, menjilat penis Solar perlahan dari pangkal sampai ujung. Lalu ia berdiri, duduk kembali di pangkuan Solar, tepat di atas penis Solar. 


“Gue yang gerak,” kata Hali pelan. “Lu diem.”


Solar mengangguk pelan, matanya menatap Halilintar dengan intens.


Dengan perlahan, Halilintar memasukkan penis Solar ke dalam dirinya. Ketika seluruh penis Solar memasuki lubang Halilintar, keduanya mengerang pelan bersamaan.


Lalu ia bergerak, lambat dulu. Halilintar menahan setiap desahan yang hampir keluar dari mulutnya. Ia fokus menjaga iramanya, menjaga ekspresi wajahnya agar terlihat tetap tenang, meskipun sensasi di dalam dirinya mulai meningkat. 


Setelah beberapa saat, ia meningkatnya kecepatannya. Naik turun lebih cepat, lebih dalam. Kakinya mulai gemetar, tapi dia tahan dan tetap bergerak. Napas Solar terdengar lebih berat, ia tetap tidak bergerak, menahan apa pun yang ingin ia lakukan.


Untuk sementara waktu, Halilintar masih bisa menangani semuanya. 


Tapi, ia mulai keenakan.


Ritmenya berubah tidak karuan. Kadang cepat, kadang lambat, kadang ia perlu berhenti sebentar karena kakinya seperti mau kejang. Napasnya tersengal-sengal. Kepalanya sudah sulit berpikir. Yang ia rasakan hanya Solar yang berada di dalam dirinya, dan sensasi yang menyebar dari perut ke seluruh tubuhnya.


“So-Solar…” nama itu keluar tanpa ia sadari.


Halilintar tetap memaksa bergerak, tapi tubuhnya sulit diajak bekerja sama. Gerakannya jadi dangkal, tidak teratur. Kakinya gemetar hebat, ia hampir tak bisa menahan badannya untuk duduk lurus di atas Solar, Halilintar hanya bisa bertumpu pada tangannya yang menekan dada Solar.


Lalu, Solar bergerak. Satu dorongan naik, satu gerakan cepat dari pinggang Solar. Tepat ke dalam, tepat di titik yang Solar tahu persis letaknya. 


Kaki Halilintar langsung lemas, kepalanya terlempar ke belakang.


“Ah—”


Bola matanya memutar kebelakang, kewalahan menerima sensasi itu.


“Ja-jangan gerak, gue bilang—”


“Maaf,” ucap Solar. Suaranya serak, tapi tidak ada nada bersalah sama sekali. “Elu enak banget. Gue ga tahan diem doang.”

 

Hali ingin marah. Benar-benar ingin. Tapi kakinya masih lemas, Solar ada di bawahnya, masih di dalamnya, sensasi itu masih terasa di seluruh tubuhnya.


“Sialan lu,” bisik Hali ke leher Solar. “Sialan banget.”


“Boleh lepasin gue ga sekarang?” tanya Solar.


“Ga.”


“Tapi elu lemes, udah ga bisa gerak.”


“Gue ga lemes.”

 

Solar mengangkat alis. “Coba gerak.”


Hali mencoba mengangkat pinggulnya. Gagal. Kakinya seperti tidak terhubung ke otaknya.


“...Sialan,” sumpah Hali.


Solar tertawa pelan. “Lepasin, Hali. Kasihan elu.”


Dengan tangan gemetar dan muka merah karena malu sekaligus kesal, Hali akhirnya melepas ikatan kain di pergelangan Solar. Membiarkan tali itu jatuh ke samping.


Begitu tangannya bebas, Solar langsung merangkul pinggang Hali, ia merubah posisinya menjadi duduk. Jarak wajah mereka hanya beberapa sentimeter. 


“Curang lu,” kata Hali. Tapi lengannya tetap memeluk leher Solar seperti biasanya.


“Berarti catatan gue ada gunanya.” Solar mencium dahi Halilintar—lembut, seperti meminta maaf.


Hali membuang muka. Mukanya merah sampai ke ujung telinga. “Gue benci lu.”


Solar terkekeh kecil. “Gue cinta lu juga.”

 



Setelahnya.


Mereka berbaring bersebelahan. Keringat masih basah di pelipis. Halilintar sudah tidak punya energi untuk marah. Tubuhnya terasa seperti habis lari maraton. 


Solar bangkit dari ranjang, berjalan ke meja belajar, dan mengambil buku catatan hitam itu. 


“Lu nulis sekarang?” tanya Halilintar tanpa semangat. Matanya sudah setengah merem.


“Data baru harus segera dicatat. Biar ga lupa.” Solar bahkan sudah membuka halaman baru sebelum menjawab


Halilintar hanya bisa menghela napas pasrah. “Lu emang gila.”


Solar tidak menjawab. Hanya duduk di tepi ranjang, pen bergerak cepat di atas kertas. Hali, dari balik kelopak mata yang hampir tertutup, melihat punggung Solar yang masih penuh cakaran merah seperti kemarin malam. Namun, sekarang leher Solar juga sudah ada bekas baru. 

 

Notes:

I'm sorry (actually not sorry) to cut the sex scene like that, I'm very bad at writing this thing.